Tradisi Wungon Warnai Malam 17-an HUT RI Ke 74

Suharto.S.Pd duduk lesehan bersama warga tamu undangan tampak akrab.
PEMALANG - Masyarakat Dusun lll RT. 16 - 17 RW 003, Desa Temuireng, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah pada malam HUT RI Ke 74  mengadakan ritual doa bersama dalam rangka mendoakan para pejuang bangsa ini dan dilanjutkan dengan acara wungon (bergadang hingga pagi) pada Jum'at (16/8/2018) malam.

Sehari sebelum tanggal 17 Agustus  masyarakat desa tersebut sepakat merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia, dan semua membuat agenda malam wungon atau tirakatan menjelang esok merayakan dirgahayu Republik Indonesia.

Amelia (17) dipanggung senantiasa melantai dengan tarian Bajidor Kahot
Acara malam tirakatan ini disambut baik warga yang hadir untuk kemudian mengenang jasa-jasa para pahlawan, seperti yang disampaikan Salah satu panitia penyelenggara (Dirjo) yang akrab disapa bang Tiger. 

"Malam wungon ini kami memaknai sebagai kebangkitan Indonesia untuk kedepannya lebih modern, lebih maju dan menuju masyarakat yang madani, sesuai logo Indonesia unggul," ungkap Dirjo ke media ini.

Sambutan Panitia, Suharto.S.Pd, memaknaik malam wungon,  katanya ada yang lebih penting do'a malam tidak lain "adalah" bagi penerus bangsa agar selalu tertanam Nasionalisme
Rangkaian malam wungon yang penuh hikmad ini,  para hadirin tamu undangan diwajibkan berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia raya dan beberapa lagu kebangsaan lainnya untuk menanamkan rasa kebangkitan nasionalisme.

Usai itu dilanjutkan do'a bersama yang dipimpin oleh (Andy), sekaligus pemotongan tumpeng secara simbolis utnuk dibagikan Kepada Warga sekitar dan dilanjutkan sambutan prakata panitia, yang sampaikan oleh Suharto.S.pd, dan kemudian pembacaan ayat suci Alquran.

Dalam menyampaikan kata sambutan, Panitia memberikan semangat menyerukan pekikan kemerdekaan yang diikuti secara serentak oleh peserta hadiri dengan penuh antusias. 

Kepala Desa juga memberikan kata sambutan
sambutan malam wungon, kebetulan yang hadir yang mewakili, sekaligus penyerahan hadiah secara simbolis untuk juara lomba.

Dari mulai sepeda santai, lomba kelereng dan lomba lari karung dan lain-lain.   Malam ini juga, pada Jumat (16/8) Pkl 21:00 Wib, untuk mencairkan suasana panggung  si cantik mungil (Amelia) dengan lincah menggeliat dipanggung melalui Tarian kreasi yang menggabungkan Dua Tari Tradisional yaitu Tari Bajidor Kahot, merupakan tarian budaya Kearifan lokal. 

Tidak ketinggalan pula  pagelaran Karawitan (Sumur Gede Laras)  yang dipimpin oleh Shobirin, warga setempat, turut meramaikan untuk nguri - uri  seni gamelan yang ada di desa tersebut.

Tradisi malam wungon atau tirakatan sungguh masih melekat di semua lapisan masyarakat Indonesia, hal ini tampak Seperti  di Dusun III Desa Temuireng malam ini sedang merayakan wungonan, karena kegiatan ini merupakan penerapan nilai-nilai gotong royong dan kerukunan dari warga karena semua yang dipersiapkan ialah dari, oleh dan untuk warga itu sendiri. 

Hal-hal seperti inilah yang sebenarnya menjadi keunggulan bangsa Indonesia yang dahulu memang dikenal dengan gotong royong dan kerukunan serta toleransinya. *

Laporan Reporter : Rae
Editor                      : Oji
Powered by Blogger.