Tetap Optimis, Walau Di"CUEK"in Pemerintah

Nur, warga Pasuruan Jawa Timur, memainkan alat musik hasil karyanya, Jum'at (10/1/20).
Pemalang - Langit syahdu yang menyelimuti Kabupaten Pemalang, diiring merdu raungan knalpot kendaraan yang melintas di Jalur Lingkar Utara, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah., menjadi saksi seorang pria paruh baya berpenampilan lusuh asal Pasuruan Jawa Timur, memainkan biola hasil karyanya. Gesekan diatas senar alat musik berbahan dasar limbah kayu ini nampak merdu terdengar dari sudut bekas warung kopi yang terletak di Jalur Lingkar Utara, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Jum'at (10/1/2020).

Pria berambut Gondrong, berpenampilan lusuh ala kadarnya itu mengaku bernama Nur. Nur yang sudah 2 Tahun berkelana menelusuri jalan di Pulau Jawa ini tampak sedih dan galau ketika ditanya tentang asalmuasal dirinya memulai berkelana dan membuat alat musik.

"Bermodal keahlian memahat kayu, Saya pun memutuskan keluar karena ingin cari pengalaman dan pekerjaan. Berbekal itu juga saya mulai membuat biola, mas", ungkapnya.

Pria pengelana yang mengaku lebih senang jalan kaki ini, sudah sekitar 2 tahun pergi berkelana.

"Lebih enak jalan kaki, mas. Dari pada numpang kendaraan. Karena jalan kaki jugalah saya mendapatkan bahan untuk membuat alat musik ini. Hasilnya bisa buat pegangan saya selama berkelana ini. Alhamdulilah, selama berkelana ini bisa bikin sekitar, 5 atau 10 alat musik ini," tambahnya.

Hari demi hari dirinya menempuh perjalanan berjalan kaki menelusuri tiap daerah. Tidak hanya harus bertahan dari cuaca yang tak menentu, ia pun harus menerima perlakuan dari orang yang "risih" dengan penampilan lusuhnya.

"Kadang diusir saat berteduh atau melepas lelah. Apalagi sekarang ini cuacanya tidak menentu. Cuman bisa sabar dengan kenyataan ini, mas," imbuhnya.

Ketika ditanya mengenai harapan di masa depannya, pria gondrong itu mengatakan jika dirinya ingin menekuni kreatifitasnya membuat alat musik, namun terkendala permodalan, karena selama ini jangankan mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat seperti raskin, bpjs, atau bantuan lainnya pun tak pernah ia dapatkan.

"Oalah mas, jangankan diberikan modal buat bikin alat musik. Bantuan lainnya juga tidak pernah saya dapatkan. Makanya saya lebih baik keluar berjuang sendiri, dari pada berharap pada pemerintah yang kurang perhatian pada orang kecil seperti saya ini", ungkapnya sembari meneteskan air mata.

Ketika ditanya apa keinginannya saat ini, Nur, mengungkapkan jika dirinya ingin kembali ke Pasuruan untuk berkumpul kembali dengan keluarga dan teman temannya.

"Saat ini saya hanya ingin kembali pulang. Bisa kumpul dan bertemu lagi dengan keluarga serta teman saya", harapnya.

Kisah perjalanan Nur ini nampak sekali jika Pemerintah Daerah belum 100% perhatian pada warga masyarakat. Banyaknya bantuan yang "Salah Sasaran", hingga bantuan dari pusat yang kadang harus "Mampir" kesana kemari dengan alasan Administrasi, merupakan PR yang harus diselesaikan bersama. Lalu, Bagaimana Reaksi Pemerintah PASURUAN, jawa Timur, yang tidak mengetahui jeritan warga seperti Nur ini? (Dentang)

Powered by Blogger.