Gugur Gunung, Normalisasi Saluran Air Peninggalan Belanda


PEMALANG - Gugur gunung adalah salah satu tradisi yang hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat pedesaan. Mereka lebih mengenalnya dengan istilah gotong-royong. Selain untuk menjaga kebersihan lingkungan, tradisi gugur gunung juga menjadi media silaturahmi untuk menumbuhkan kerukunan dan rasa kebersamaan.
Pada momen Jum'at bersih (7/2/20), Pemdes Sungapan, Kecamatan Pemalang mengajak warga bergotong-royong menormalisasi saluran air di areal persawahan yang tersumbat endapan lumpur dan tumpukan sampah.

Saluran air dan gorong-gorong peninggalan pemerintah Belanda ini tercatat pernah mengalami penyumbatan yang cukup parah sekitar tahun 2010 lalu. Akibatnya, sejumlah rumah di dusun 1 terendam banjir.

"Kita berupaya menormalisasi saluran ini dengan mengangkat endapan lumpur. Tujuannya jelas, supaya aliran air lancar dan mencegah terjadinya banjir," ujar Sobirin, Kades Sungapan saat ditemui di lokasi.

Disamping mengantisipasi banjir, melalui tradisi gugur gunung atau gotong-royong, Sobirin ingin membangkitkan kembali kesadaran dan keperdulian masyarakat terhadap kondisi di lingkungannya.

"Tidak hanya mengandalkan pemerintah saja. Sebenarnya untuk lingkungan masing-masing, mereka bisa kerjakan sendiri. Makanya kita bangun kembali kesadaran mereka," sambungnya.

Langkah strategis yang akan segera dilakukan Pemdes Sungapan adalah melakukan pelebaran secara bertahap, mengingat daya tampung saluran pembuangan air di areal persawahan (Hilir-red) yang semakin menyempit.

"Ya, kita akan melakukan pelebaran, namun secara bertahap. Fokusnya, di wilayah hilir. Kita tingkatkan daya tampungnya agar aliran air dari arah pemukiman lancar. Dengan begitu, air tidak akan meluap ke badan jalan ataupun merendam rumah warga," pungkasnya.

Reporter : J'S


 

Powered by Blogger.