Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang, Beri Pendampingan UMKM Di Desa Asemdoyong



JURNALPEMALANG.CO.ID, Pemalang - Dalam rangka melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di Kabupaten Pemalang, salah satu program kerja KKN Kelompok 104 mahasiswa UIN Walisongo Semarang melakukan pendampingan kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).Salah satu diantaranya yakni memberi pendampingan kepada mbah Sicas, pelaku usaha pembuat terasi yang ada di Desa Asemdoyong, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.Pendampingan berlangsung selama tiga hari, dari hari Selasa (6/10) hingga Kamis (8/10) pekan silam.


Dalam rilis yang dikirim ke Jurnalpemalang.co.id menyebutkan, bahwa mereka memilih pendampingan pembuatan terasi karena nilai jualnya belum signifikan.




“Salah satu alasan pemilihan UMKM “Terasi Rebon” karena produk yang dihasilkan asli berbahan baku rebon tetapi nilai jualnya belum signifikan. Untuk itu kami berpartisipasi dalam memproduksi terasi rebon,” kata Rizka salah satu mahasiswi yang mengikuti pendampingan.


Karena alasan itulah para mahasiswa UIN Walisongo Semarang berpartisipasi dalam pendampingan pembuatan terasi tradisional yang berbahan baku rebon, dari proses pembuatan sampai pada proses pengemasan, dengan memberikan inovasi baru, seperti yang tadinya terasi dikemas dengan daun pisang kering, diganti dengan kertas yang diberi label produk UMKM, sehingga tampak menarik dan mempunyai nilai jual yang tinggi.




“Berdasarkan pengamatan, kami berinisiatif untuk memberikan bantuan berupa cara pengemasan yang lebih menarik guna menaikan nilai jual. UMKM tersebut pada awalnya mengemas terasi rebon dengan tradisional menggunakan daun pisang kering (klaras), kemudian kami memberikan inovasi pengemasan menggunakan kertas berlogo UMKM terasi rebon sehingga muncul identitas produk tersebut,” imbuhnya.


Untuk lebih memajukan UMKM terasi rebon agar produksinya lebih meningkat maka mahasiswa KKN Kelompok 104 UIN Walisongo Semarang berinisiatif memberikan bantuan alat produksi berupa mesin penggiling rebon. 


“Hal ini kami lakukan selaras dengan pernyataan mbah Sicas -“nyong kui asline wis kesel nutu bae, pengine kaya batire pada nganggo mesin” (saya itu sebenarnya sudah capek menumbuk, ingin seperti mereka yang menggunakan mesin),” tandas Rizka sambil menirukan keluhan mbah Sicas.


“Dengan melakukan pendampingan ini, kami berkeyakinan akan dapat meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi rasa lelah mbah Sicas UMKM terasi rebon tersebut,” pungkasnya. 


Dibuat oleh : Masna Mahanani Utami KKN UIN WALISONGO Semarang Kelompok 104)


Post a Comment

SILAHKAN BERKOMENTAR DENGAN BIJAK DAN SESUAIKAN DENGAN TEMA PEMBAHASAN

Powered by Blogger.