Membangun Resiliensi Diri Dalam Mewujudkan Pribadi yang Tangguh


 

Penulis : Febri Sebastian, S.Pd., M.Si (Aktifis Gerakan Pramuka Kwarcab Pemalang ) 


Dalam dinamika kehidupan bermasyarakat, suatu individu secara pribadi dimungkinkan akan berhadapan bahkan berbenturan dengan suatu rintangan dan tantangan tertentu yang unik dan khas. Sehingga dibutuhkan sebuah kemampuan untuk dapat mengelola problematika yang dihadapi serta mengolah semua potensi positif diri untuk tetap bertahan agar tidak semakin terpuruk dan secara tangguh dapat segera bangkit untuk menentukan langkah nyata yang bersifat solutif, menjadikan sebuah kebutuhan tersendiri bagi setiap individu untuk memiliki pribadi yang tangguh dalam setiap menghadapi keadaan atau dinamika yang menekan secara pribadi. Dalam sudut pandang ini Resiliensi menjadi sebuah kemampuan yang dapat menjawab problematikak tersebut dengan konstruktif.


Secara umum, resiliensi bermakna kemampuan seseorang untuk bangkit dari keterpurukan yang terjadi dalam kehidupannya. Orang-orang dengan resiliensi yang positif akan mudah untuk kembali ke keadaan normal. Selain itu orang dengan resiliensi positif mampu mengelola emosi secara sehat (Uyun, 2012).


Desmita (2009) menjelaskan Resiliensi (daya lentur, ketahanan) adalah kemampuan atau kapasitas insani yang dimiliki seseorang, kelompok atau masyarakat yang memungkinkannya untuk menghadapi, mencegah, meminimalkan dan bahkan menghilangkan dampak-dampak yang merugikan dari kondisi yang tidak menyenangkan, atau mengubah kondisi kehidupan yang menyengsarakan menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi.


Menurut Connor dan Davidson (dalam Azzahra, 2017) bahwa Resiliensi terkait dengan lima hal, yaitu: 

(1) Kompetensi personal, standar yang tinggi dan keuletan, hal ini menujukkan bahwa individu merasa mampu mencapai tujuannya dalam situasi kemunduran atau kegagalan. 

(2) Kepercayaan terhadap diri sendiri, memiliki toleransi terhadap efek negatif, dan kuat menghadapi stres, hal ini berkaitan dengan ketenangan dan coping terhadap stress, berpikir dengan hati-hati dan fokus meskipun dalam masalah. 

(3) Menerima perubahan secara positif dan dapat menjalin hubungan yang aman dengan orang lain, yaitu kemampuan beradaptasi dengan perubahan yang dihadapinya.

(4) pengendalian diri, dalam pencapaian tujuan dan bagaimana meminta bantuan pada orang lain. 

(5) Pengaruh spiritual, ialah yakin akan Tuhan dan nasib

Keterkaitan sebuah pemahaman bahwa resiliensi diri adalah upaya mewujudkan pribadi tangguh, dalam hal ini Mayasari (2014) menyampaikan bahwa orang yang tangguh dapat secara efektif mengatasi atau beradaptasi dengan situasi-situasi kehidupan yang penuh tekanan dan masalah. 


Selanjutnya Dinata (2011) menjelaskan bahwa Pribadi yang pantang menyerah (Tangguh) sebutan bagi pribadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya. Pribadinya yang menganggap sesuatu yang terjadi itu dari segi positifnya. Sudut padang pemahaman tersebut sejalan dengan penjelasan Uyun (2012) Pribadi dengan resiliensi tinggi ini akan mampu keluar dari masalah dengan cepat dan tidak terbenam dengan perasaan sebagai korban lingkungan atau keadaan dan mampu mengambil keputusan saat berada dalam situasi sulit. Individu yang memiliki resiliensi tinggi mampu mempertahankan perasaan positif, kesehatan serta energi. 


Mendasarkan pada beberapa teori diatas dapat terbentuk sebuah kerangka pemahaman, bahwa suatu individu yang memiliki resiliensi diri yang baik dan positif dalam menghadapi suatu problematika hidup, maka individu tersebut secara tidak langsung telah mencapai predikat pribadi tangguh.


Mengingat Pribadi tangguh merupakan sebuah penilaian atau predikat atas figur yang telah berhasil mengatasi dan beradaptasi dengan suatu tekanan atau masalah, sedangkaan resiliensi merupakan suatu kemampuan positif yang mewujudkan daya dan upaya guna menghadapi, mencegah dan menghilangkan dampak sebuah tekanan dan masalah yang akhirnya secara utuh masalah tersebut dapat teratasi dengan baik dan tekanan pun akan dapat dikelola dengan bijak dan lentur (daya pegas) sehingga memungkinkan untuk segera kembali ke kondisi wajar dan normal.


Reivich dan Shatte (dalam Uyun, 2012) menjelaskan bahwa resilience terbangun dari 7 (tujuh) komponen kemampuan yang terdiri dari : Resiliensi mencakup tujuh komponen, yaitu: regulasi emosi, pengendalian impuls, optimisme, analisis penyebab masalah, empati, efikasi diri, dan peningkatan aspek positif.


Atas dasar hal tersebut diatas, sekiranya dapat dikembangkan menjadi beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membangun resiliensi diri guna mencapai pribadi yang tangguh, ditengah problematika sosial yang muncul di sekitar kita saat ini : 

  1. Lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, secara prinsip semua yang terjadi di dunia ini adalah takdir dan kehendak Allah SWT, termasuk setiap pertolongan yang muncul baik secara langsung maupun melalui perantara
  2. Berusaha ikhlas dan bersyukur atas semua fenomena yang terjadi.
  3. Selalu Optimis, dalam artian selalu berfikir dan berpandangan positif atas suatu harapan yang dibangun.
  4. Miliklah Self-efficacy (Efikasi Diri), yakin pada kemampuan diri sendiri untuk dapat menghadapi dan mengatasi masalah secara tepat dan efektif.
  5. Analisis Penyebab Masalah, berpusat pada kemampuan individu untuk mengidentifikasi dan mengkaji penyebab-penyebab dari permasalahan yang muncul.
  6. Regulasi Emosi, yakni  kemampuan untuk menanta dan mengelola emosi diri agar tetap tenang meskipun berada di bawah tekanan.
  7. Pengendalian Impuls, sebagai kemampuan mengendalikan keinginan, dorongan serta tekanan yang muncul dari dalam diri dengan bijak sebelum melakukan suatu tindakan tertentu
  8. Peningkatan aspek positif, yakni mampu melakukan dua aspek ini dengan baik, yaitu: (a) mampu membedakan risiko yang realistis dan tidak realistis, (b) memiliki makna dan tujuan hidup serta mampu melihat gambaran besar dari kehidupan.
  9. Empati, menggambarakan bahwa individu mampu secara peka menangkap tanda/gejala psikologis dan kondisi emosi orang lain. 
  10. Pererat kedekatan dengan keluarga dan teman, dengan kita semakin mepererat kedekatan dan harmonisasi hubungan kita dengan keluarga dan teman, hal ini akan memberikan suatu energi positif tersendiri yang dapat menjadi penguat ketahanan mental suatu individu 
  11. Terlibatlah dalam sebuah aktifitas positif yang sekiranya dapat memberikan hiburan guna membuat hati sejuk atau perasaan bahagia.

 

Daftar Pustaka 

  1. Arda Dinata.  2011. Menjadi Pribadi Tangguh. Tafakur. Edisi 10 Vol VI No.01 / Juni 2012.
  2. Desmita. 2009. Mengembangkan Resiliensi Remaja dalam Upaya Mengatasi Stres Sekolah. Ta’dib Vol. 12, No. 1 (Juni 2009).
  3. Fatimah Azzahra. 2017. Pengaruh Resiliensi terhadap Distres Psikologis pada Mahasiswa. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan. Vol. 05, No.01 Januari 2017. ISSN: 2301-8267.
  4. Ros Mayasari. 2014. Mengembangkan Pribadi Yang Tangguh Melalui Pengembangan Keterampilan Resilience. Jurnal Dakwah, Vol. XV, No. 2 Tahun 2014.
  5. Zahrotul Uyun. 2012. Resiliensi Dalam Pendidikan Karakter. Prosiding Seminar Nasional Psikologi Islami. Surakarta, 21 April 2012.

Post a Comment

SILAHKAN BERKOMENTAR DENGAN BIJAK DAN SESUAIKAN DENGAN TEMA PEMBAHASAN

Powered by Blogger.