Dibalik Penampakan Arwah Pak Damsik

ilustarsi

Oleh : Tuko Chaeron, Guru SDN 04 Banyumudal, Moga Kabupaten Pemalang

Namaku Handoko, aku biasa dipanggil Koko oleh warga kampungku. Dalam usia 26 tahun aku masih membujang karena aku memang belum berfikir untuk menikah. Aku masih suka kumpul-kumpul di majelis agama seperti di masjid dan madrasah. Berbekal ilmu agama yang pernah aku pelajari dari bangku madrasah, aku menyibukkan diri mengajar di madrasah yang ada di kampungku. Tiap malam kegiatan rutinku adalah mengajar anak-anak di madrasah , dari habis Isya hingga pukul 9 malam.

Seperti biasa setelah sholat isya di masjid , aku berangkat menuju madrasah dengan mengenderai sepeda. Dipertigaan jalan yang akan menuju madrasah , sesorang menyapaku, “ Mas Koko mau berangkat ngajar ?”, aku menoleh dan menhengtikan sepedaku.

Lalu aku menjawab, “ Ya pak, ..lho Pak Damsik to !, sendirian aja pak?” tanyaku.

“ Ya mas, lagi gerah jadi butuh jalan-jalan keluar “ jawab pak Damsik. Lalu akupun menjawab,              “ O ya pak, semoga sehat selalu ya pak !, mari pak, saya jalan dulu !”. Pak Damsikpun membalas, “ Mari mas!, hati-hati dijalan!”

Pak Damsik adalah tetangga yang rumahnya agak jauh dari rumahku. Oleh warga kampungku Pak Damsik termasuk dinilai orang yang kurang akrab dalam pergaulan, karena dia memang lebih suka menyendiri dari warga kampung . Dia jarang kelihatan ikut kumpul-kumpul dengan warga kampung seperti solat berjamaah, tahlilan maupun kegiatan lainnya.

Walaupun demikian aku kadang berusaha menyempatkan ngobrol jika bertemu dengannya. Aku sangat suka ngobrol dengannya karena dia termasuk orang yang pinter cerita, pandai bicara, dan memang pengetahuannya luas, hanya saja dimasa senjanya dia lebih banyak menyendiri dirumah.

Hampir setiap aku berangkat mengajar madrasah, aku selalu bertemu dipertigaan jalan dekat rumahnya walaupun tidak setiap hari. Ketika bertemu selalu ada saja yang diobrolkan walau sebentar. Jadi terasa kayak ada yang kurang kalau berangkat tidak ketemu dengan Pak Damsik.

Suatu hari aku dikejutkan dengan berita bahwa Pak Damsik meninggal dunia karena serangan jantung. Berita itu benar-benar mengejutkan aku, karena selama ini aku melihat dia selalu sehat dan segar bugar jika bertemu pada saat-saat aku berangkat mengajar ke madrasah. Memang kematian  bisa terjadi kapan saja, karena kematian itu takdir dan hak Tuhan atas hamba-hambaNya.

Cuma kematian yang mendadak itu benar-benar mengejutkanku.

Terlihat warga kampung berduyun-duyun mendatangi rumah Pak Damsik, walaupun mereka mengenal Pak Damsik kurang bergaul, tapi warga masyarakat tetap guyup bertakziyah karena memandang hal itu sebagai bentuk ibadah serta bagian dari tolong menolong dalam masyarakat.

Selepas kepergian Pak Damsik, hari-hariku terasa ada yang kurang jika aku melewati pertigaan jalan dekat rumahnya. “ Ah biasanya Pak Damsik menyapaku disini ya “ gumamku dalam hati.

Begitu selalu aku teringat jika aku berangkat maupun pulang mengajar madrasah.

Tanpa terasa sudah seminggu berlalu dari kematian Pak Damsik, akupun menjadi terbiasa dengan keadaan yang tak ada sapaan darinya. 

Malam itu malam jumat kliwon, aku tidak mengajar Madrasah karena libur. Namun malam itu ada pertemua di madrasah membahas imtihan yang akan dilaksanakan beberapa pekan kedepan. Aku berangkat selepas solat Isya menuju madrasah. Rapat di madrasah berlangsung hingga larut malam. Aku pulang sekitar jam 12 malam menuju rumah. Pada saat jalan pulang, kira-kira 50 meter mendekati pertigaan rumah Pak Damsik, aku amat kaget melihat ada sosok ditengah jalan dengan kaos oblong dan sarung kotak kotak persis yang dikenakan Pak Damsik jika menemuiku di pertigaan tersebut. Aku mengerem menghentikan sepedaku. Sambil mengatur nafasku,  kuarahkan pandangaku ke sosok tersebut dari kejauhan. Rasa takutkupun mulai merasuki seluruh tubuhku. “Inikah penampakan arwah pak Damsik?” hatiku bertanya-tanya. Akupun mengambil keputusan untuk berbalik arah melewati jalan lain agar tidak berpapasan dengan penampakan itu. Kugayuh sepedaku sekencang mungkin agar segra sampai rumah. Sesampai dirumah aku langsung ke kamar dan tidur .

Pagi harinya aku masih tertegun dan bertanya-tanya dalam hatiku, “ Benarkah yang aku alami semalam?” . Aku memang tidak mempercayai hal-hal tahayul seperti penampakan dan hantu  gentayangan yang banyak diceritakan orang. Tapi aku tidak berani menceritakan kejadian semalam kepada orang lain, karena aku masih belum percaya sepenuhnya.

Sampai pada suatu malam setelah seminggu kejadian tersebut, aku kembali pulang dari madrasah agak malam melebihi jam 11 malam. Dalam perjalanan pulang kembali aku dikagetkan dengan kejadian yang sama seminggu lalu. Dari jarak 50 meter mendekati pertigaan rumah Pak Damsik, sesosok yang persis dengan Pak Damsik tampak berdiri di tengah jalan  seperti sengaja menungguku disana. Aku kembali menghentikan laju sepedaku dan menenangkan diriku. “ Aku harus tenang !, aku harus tenang!” begitu kata hatiku. Aku diam sejenak sambil mengamati kejadian itu. Hatiku berkata lagi, “ Aku harus memastikan hal ini!, aku harus menghampiri penampakan sosok Pak Damsik ini!, jika benar ini penampakan arwah dia, aku akan cerita pada orang banyak besok pagi, aku tidak boleh berbalik, aku harus menghampiri !” begitu gumam hatiku.

Sambil mengucap “ Bismillah” kugayuh lagi sepedaku mendekati sosok tersebut, walau dengan debar jantung yang tidak menentu. Setelah aku semakin mendekat dengan sosok tersebut, kira-kira 2 meter darinya, aku benar kaget dengan suara sapaan; “ Mas..baru pulang?, Pyuuurr… terasa ada aliran listrik mengalir di kepalaku. Akupun terdiam bisu, sambil memperhatikan dengan jelas sosok tersebut, dan aku berteriak; “ Ooooo Pak sofie!! Ha..ha…!! sambil kegirangan dalam hatiku. Ternyata sosok yang selama ini aku kira sebagai penampakan arwah Pak Damsik, ternyata dia adalah tetanggaku juga yang rumahnya dekat pertigaan itu. Akupun menyapa ,” Mari Pak Sofie!, sudah malam lho pak!”, lalu sepeda kugayuh dengan cepat penuh semangat , rasanya ingin segera sampai rumah.

Aku benar-benar merasa senang, karena aku bisa membuktikan rahasia dibalik penampakan sosok Pak Damsik yang kuduga sebagai hantu, ternyata itu sosok manusia sungguhan, yaitu Pak sofie tetanggaku.

“Alhamdulillah.. aku terhindar dari bercerita bohong, jika aku menceritakan kejadian itu kepada orang lain , tanpa aku membuktikan hal yang sebenarnya” begitu ucap syukurku.

Aku ceritakan kejadian itu kepada warga kampung dan murid-muridku di madrasah, agar mereka tidak mudah percaya dan takut pada hal-hal aneh yang berbau tahayul. Semua harus dibuktikan dulu kebenarannya, baru kita ceritakan.(*)


Post a Comment

SILAHKAN BERKOMENTAR DENGAN BIJAK DAN SESUAIKAN DENGAN TEMA PEMBAHASAN

Powered by Blogger.