Iklan

terkini

Iklan

Cloud Hosting Indonesia

Keranjang Berkah

29/12/21, 19:24 WIB Last Updated 2021-12-31T01:06:10Z


Cerpen Karya : Tuko Chaeron,S.Pd

Panto namanya. Pemuda desa yang tinggal di daerah punggung gunung sedang berjalan lunglai setelah seharian berusaha mengais rezeki di desanya.

Pemuda lulusan SMK jurusan pertanian ini tergolong masih belum beruntung dalam karir dan cita-citanya. Setelah menamatkan di salah satu SMK swasta di wilayah kecamatan tempat tinggalnya, ia belum mendapatkan pekerjaan tetap dalam hidupnya.

Ia hidup dengan ibunya yang sudah tua dan saki-sakitan. Bapaknya sudah 3 tahun yang lalu meninggalkannya. Panto memang tidak berminat kerja pabrikan apalagi kantoran.
Dalam benak cita-citanya ia ingi jadi wirswasta atau petani sukses.
Namun apadaya modal untuk itu semua tak pernah didapatinya, sehingga seakan cita-citanya itu serasa hanya mimpi belaka.

Dalam keletihan, kejenuhan dan ketidakjelasan nasibnya itu, ia bertekad untuk mencari usaha serabutan di kebun-kebun penduduk di desanya. Hari itu Panto menyusuri jalan desa, gang-gang kecil, jalan-jalan setapak perkebunan penduduk untuk mendapatkan peruntungan nasib.
Disebuah kebun nanas milik Pak Harjo, salah seorang petani sukses pemilik kebun nanas yang luasnya berkehtar-hektar ia melihat banyak orang sedang bekerja sebagai buruh perkebunan disana.
Panto mendekat kelokasi kebun tersebut. Tiba-tiba salah seorang dari buruh disana menyapanya,
“ To,..mau kemana To?” tanya orang tersebut.
“ Eh ..Mas Adi, iya mas ini lagi jalan-jalan cari kerjaan” jawab Panto
Ternyata, orang yang menyapa itu bernama Adi tetangga dekat rumah Panto.
“ Wah..emang kamu mau kerja kasar kayak kita-kita disini To ?” tanya Adi
“ Saya sih , pekerjaan apapun mau mas, asal bisa untuk belajar dan halal pastinya “ jawab Panto
“ Baik, nanti saya bilang Pak Harjo ya, mumpung lagi butuh tambahan orang To !” sahut Mas Adi.
“ Terima kasih sekali mas, saya tunggu disini deh !” jawab Panto.

Bergegas Mas Adi melangkah ke suatu tempat untuk menemui Pak Harjo. Selang beberapa menit Mas Adi datang dengan seorang laki-laki yang kelihatan gagah, tinggi dan gemuk, walau terlihat dari wajahnya sudah berumur senja.
“ Ini Pak tetangga saya, namanya Panto “tunjuk Mas Adi kearah Panto.
“ Oo kamu Panto, ..katanya butuh kerjaan ?” tanya Pak Harjo.
“ Nggih pak, ..saya butuh kerjaan “ jawab Panto.
“ Katanya kamu lulusan SMK Pertanian ya?” tanya Pak Harjo.
“ Iya Pak, dan saya suka sekali jika berada ditengah-tengah perkebunan” jawab Panto
“ Baik sekarang bisa bekerja di kebunku ini, nanti biar Adi yang ngasih tahu kerjaanmu” kata Pak h
Harjo.
“ Terima kasih pak, insya Allah saya siap untuk bekerja” tegas Panto.
Kemudian Mas Adi mengajak Panto untuk masuk kebun dan mengajari kerjaan apa saja di kebun Pak Harjo ini. Panto pun bekerja dengan sungguh-sungguh.

Kesungguhan Panto bekerja di kebun nanas Pak Harjo membuahkan keahlian dalam diri Panto, mulai dari mematun, menetes, memupuk dan memanen hingga menanam nanas kembali.
Sudah hampir dua tahun ia bekerja sebagai buruh di kebun nanas Pak Harjo. Dia merasakan kebahagian tersendiri, disamping punya penghasilan bulanan, ia juga mendapatkan pengalaman bertanam nanas dari pekerjaannya.
Hari itu ia terlihat sedang duduk istirahat dari kerjaannya, karena memang jam-jam itu semua pekerja juga istirahat. Panto menatap hamparan kebun nanas yang luas , rapi, terlihat warna kuning-kuning menyilaukan pandangan siapa saja yang melihat buah nanas bermunculan di rerimbun pohon nanas Pak Harjo.
“ Ya Allah, aku menyenangi bertani, kini aku juga sudah ahli bertani nanas, berikanlah kesempatan pada diriku Ya Allah, untuk bertani sendiri” doa Panto disela-sela istirahatnya.
Tiba-tiba ia terkaget dengan sapaan seseorang. “ To, ..aku melihat kamu semakin pandai bertani nanas, apa kamu tidak ingin punya kebun nanas sendiri ?” tanya orang itu yang ternyata adalah Pak Harjo.
“ Eh Pak Harjo,.. ah bisa aja Pak Harjo ini, tentu keinginan itu ada dan kuat Pak, tapi aku belum punya modal baik uang maupun lahan” jawab Panto.
“ To, aku punya beberapa tanah yang belum aku tanami, kamu boleh pakai untuk kamu tanami nanas, nanti untuk bibitnya gak usah beli. Kamu boleh ambil bibit-bibit yang berserakan dari sekitar kebunku setelah panen” jelas Pak Harjo.
“ Wah ..terima kasih sangat Pak , saya mau Pak “ sambut Panto dengan tegas.
“ Baiklah, besok saya antar ke lahan punyaku yang belum terpakai, dan kamu juga boleh mulai kumpulin bibit yang berserakan disekitar kebun sini biar jadi bersih!” ajak Pak Harjo.
“ Nggih Pak, terima kasih “ jawab Panto.

Sehari kemudian Panto dan Pak Harjo menuju lahan kosong yang akan dipakai Panto.
Dia juga mulai mengangkut bibit-bibit dari kebun Pak harjo yang berserakan.
Semua dikerjakan sendiri dengan keranjang bambu yang digendongnya setiap berangkat kerja.
Hari-hari Panto selalu membawa keranjang bambu di pundaknya ke kebun nanas Pak Harjo.
Dengan semangat tinggi, bibit-bibit itu terkumpul hingga ribuan, yang diangkutnya berhari-hari dengan keranjang bambu yang digendongnya.
Sampai pada waktunya, tanah yang cukup ditanami 3000 pohon itu, tumbuh rimbun subur .
Dengan keahlian yang didapat dari pengalaman jadi buruh di kebun Pak harjo, ia mengolah kebun nanas dengan perawatan yang baik. Sampai pada masanya muncul buah nanas madu yang menguning di atas rerimbunan pohon nanas milik Panto.
Ia pun bersyukur pada Tuhan, karena doa-doanya telah dikabulkanNya.
Mulailah Panto mempersiapkan memanen kebunnya. Karena letaknya yang sulit dijangkau kendaraan, Panto pun mempersiapkan puluhan keranjang bambu untuk mengangkut buah nanas madu kebunnya. Dia memperkerjakan teman-teman dan tetangganya untuk mengangkut nanas-nanas hasil kebunnya. Dia juga tetap ikut memanen sendiri dengan keranjang bambu miliknya yang sudah lama ia gendong sejak awal untuk merintis usahanya.
“ Alhamdulillah..,keranjang ini sudah membawa berkah, “ ucap syukurnya .

Sejak itulah Panto berkembang menjadi seorang pengusaha perkebunan nanas yang besar, dan ia menjadi orang kaya yang tetap menggendong keranjang yang membawa berkah bagi kehidupannya.(*)
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Keranjang Berkah

Terkini

Iklan