Iklan

terkini

Iklan

Cloud Hosting Indonesia

Permata Dalam Keriput Wajahmu

25/12/21, 21:10 WIB Last Updated 2021-12-26T05:00:01Z

Cerpen karya : Tuko Chaeron

Pagi yang cerah itu Amri duduk duduk diteras rumah sembari melepas lelah setelah olah raga pagi. Hari minggu ini dia libur dari kegiatan kerjanya sebagai pegawai negeri di salah satu dinas kabupaten.
Seorang wanita muda mendatanginya sambil membawa secangkir teh panas dan makanan ringan.
“ Monggo Pak, teh panasnya dinikmati !” sapanya . Amri menoleh dan tersenyum, “ Terima kasih bu,.. kamu memang isteriku yang penuh pengertian “, jawabnya sambil mengelus punggung wanita muda itu yang ternyata adalah isterinya. “ Aku kedalam lagi dulu ya Pak, ..Ata sudah bangun, tadi minta dibuatin susu !” ucapnya sambil bergegas masuk kedalam. “ Ya Bu,”  jawab Amri.
Ternyata mereka adalah pasangan keluarga muda yang baru diberi buah hati bernama Ata, dari singkatan Amri dan Yulita nama isterinya.

Semilir angin yang semakin menyejukkan udara pagi itu membuat Amri teringat pada masa kecil dengan ibunya. Ingatanya kembali pada wajah ibunya ketika masih muda yang cantik, bersih, ceria, membersamai dia ketika masih kecil. Ibu yang menghangatkannya. Ibu yang selalu menyiapkan makanan untuknya, ibu yang menemaninya belajar membaca, menulis, menggambar, bernyanyi-nyanyi dan lain –lain yang menyenangkanku.” Oh ibu.., kau begitu kuat, kau begitu tulus menyanyangiku,  kau seperti tak punya lelah ibu, kau juga seperti tak merasakan derita piara diriku” gumamnya dalam hati.
Seteguk air yang dinikmatinya memecah lamunan masa kecilnya. “ Alhamdulillah, terima kasih Bu, teh yang kamu bikin terasa menyegarkan badanku” ucap sanjung dalam hati untuk Yulita isterinya.
“ Ya ampun.., aku juga sekarang telah menjadi orang tua. Aku sudah punya anak, punya Yulita ibu dari anakku yang juga sekarang sedang berjuang membesarkan dan mendidik anakku” gumam hati Amri.
“ Oh Tuhan, kuatkanlah hati kami, tuluskanlah niat kami untuk bisa menjaga anak-anak kami, seperti orang tua kami yang telah mengantarkan diriku menjadi dewasa sekarang ini!” doanya kepada Tuhan disela - sela renungannya.

Selang beberapa menit, Yulita dan Ata mendatangi Amri duduk diteras depan rumah. “ Bapak-bapak..Ata ingin jalan-jalan minggu ini !” rengek Ata kepada bapaknya. Amri menjawab , “ Ya Ata, hari ini kita kerumah nenek yuk !, Bapak kangen sama nenek”. Ata dan Yulita menjawab secara bersamaan, “ Mau sekali pak !. “Baiklah.., bapak siap siap dulu ya! sahut Amri.
Amripun bergegas kedalam rumah untuk bersiap-siap mengunjungi ibunya hari ini.

Tepat jam 08.00 pagi itu mereka berangkat mengunjungi rumah nenek Ata di desa kelahiran Amri kurang lebih 50 Km jarak dari rumah Amri sekarang. Kurang lebih satu jam waktu yang ditempuh mereka untuk sampai ke tujuan. Kurang lebih pukul 09.15 mereka telah sampai didepan sebuah rumah tua tapi terkesan terawat baik. Dirumah itu tinggal seorang ibu tua bernama Bu Warti yang ditemani seorang pembantu. Suami Bu Warti sudah 2 tahun yang lalu meninggal dunia. Bu Warti tidak mau membersamai anaknya untuk sisa hidupnya. Ia ingin tetap tinggal dirumah peninggalan suaminya. Makanya Amri membayar pembantu dari penduduk desa itu untuk menemani ibunya.
“ Tok ..tok..tok !, Assalamlaikum !” teriak Amri dan Ata dari luar rumah.
“ Waalaikum salam “ Jawab seorang perempuan dari dalam. “ Oh Pak Amri, Bu Lita, mas Ata !, mari masuk !” ucap Ijah pembantu Bu Warti kepada mereka.
“ terima kasih mbak Ijah, Ibu Sehat ?” tanya Amri kepada Ijah.
“ Nggih pak, alhamdulillah.., tapi sudah dua hari ini ibu kelihatan sering lelah dan banyak istirahat di kamar !” jawab Ijah. 
“ Sekarang lagi di kamar ya ?” tanya Amri.
“ Nggih pak, tadi habis sholat subuh istirahat lagi di kamar”, jawab Ijah.
Lalu Amri, Yulita dan Ata langsung menuju ke sebuah kamar.Tampak di tempat tidur seorang wanita tua sedang tidur pulas, dengan nafas pelan menandai ketuaan usianya.
Amri melihat dan mengamati wajah ibunya dengan mata berkaca-kaca. Ibunya yang baru saja dibayangkan masih muda ceria, kini terlihat kusam penuh keriput diwajahnya. Bekas-bekas kepayahan hidupnya sangat jelas tergambar diwajah tuanya itu.
“ Ibu.., selelah itukah dirimu?, wajah mudamu kini sudah memudar, ibu …, maafkan aku bu!, aku baru sadar kenyataan ini, aku terlalu lama tidak memperhatikan wajah senjamu, karena aku terlalu sibuk memperhatikan wajah muda istriku !” teriak Amri dalam hatinya.
Ia pun mendekati ibunya , dengan meneteskan air mata ia berucap, “ Ya Allah, ampunilah aku, ampunilah ibuku, ampunilah ayahku yang sudah tiada, berilah kekuatan, kesehatan, dan kebahagiaan disisa hidup ibuku, limpahkanlah selalu hidayahMu agar beliau selamat didunia dan di akhirat kelak, Aamiin!”
Tiba-tiba mata Bu Warti pun terbuka dari tidurnya, mendengar desah doa anaknya.
“Ehh.. kalian datang, Amri,Lita, cucuku Ata !??” teriaknya karena kaget.
“ Ya ibu,.. ! Ibu sehat kan?, Amri kangen bu, makanya kami semua datang kesini hari ini” jawab Amri.
“ Iyaa.. ibu sehat, cuma sedikit lelah aja dari kemarin , tapi gak apa apa kok!” jawab pelan Bu Warti.
“ Ayoo, kita ke ruang depan !” ajak Bu Warti sambil perlahan lahan bangun dari tempat tidurnya.

Amri dan anak isterinya keluar bersama Bu Warti menuju ruang depan. Dengan penuh rasa sayang Amri dan keluarganya membersamai Bu Warti di ruang depan rumahnya. Amri duduk merapat ibunya, ia memeluk-meluknya, mengelus-elus lengannya, memijit-mijit punggungnya. Begitu terasa ingin selalu dekat ia pada ibunya, terkenang masa-masa kecilnya. Amri kembali memeluk dan mencium ibunya sambil berkata, “ Ibu tinggal bersama kami aja ya!?” ajak Amri pada ibunya.
“ Amri.., ibu sudah tua, ibu sudah bahagia lihat kalian bahagia, ibu tidak mau merepotkan kalian, cukuplah kalian repot untuk anak anakmu saja, agar bisa jadi pelajaran bagi dirimu dan anak-anakmu nanti’ jawab ibunya.
“ Amri ..,ibu sudah sangat puas bisa mengantarkan kamu menjadi orang yang baik pada keluargamu, pada anak isteri kamu, dan ibu sangat bahagia kamu masih menyayangi ibumu. Ibu sekarang hanya butuh ibadah dan dekat dengan Allah, karena ibu sudah dekat waktunya untuk kembali kepadaNya. Jadi … biarkan ibu tetap dirmah ayahmu ini sampai nanti ibu meninggal “ lanjut Bu Warti.
Amripun memeluk erat ibunya sambil menangis dan berucap, “ Ibu..Amri berterima kasih pada ibu, dan Amri menghormati keputusan ibu. Semoga ibu selalu dalam kasih sayang Allah”.
“ Terima Kasih Nak !” jawab ibunya.
Bu Warti tetap tersenyum bahagia pada Amri dan keluarganya. Sungguh senyuman bahagia seorang ibu bagai permata yang menghiasi wajah keriput di usia senja Bu Warti.(*)


PENULIS :
Nama : TUKO CHAERON, S.Pd
Tempat Lahir : Pemalang
Tanggal lahir : 17 Januari 1970
Pekerjaan : Guru SDN 04 Banyumudal
Kecamatan : Moga
Kabupaten : Pemalang

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Permata Dalam Keriput Wajahmu

Terkini

Iklan